Senin, 26 Juli 2010

Cerita dua kali tiga


Cat kuning yang melumuri tembok berbahan batu bata itu menjadi saksi bisu canda tawaku 4 tahun terakhir. Kamar berukuran 2x3 meter ini pula sellau menjadi pendengar yang baik dalam perkembangan emosi si anak labil. Sering terlihat derai air mata, air mata bahagia dan air mata duka dengan puluhan alasannya.

Cemin panjang yang melekat pada wajah sebelah kiri almari juga selalu setia memaparkan patut tidaknya penampilan si anak labil dengan segala gaya dan tingkah anehnya. Ruangan kecil ini tampak hidup dengan radio yang selalu menyala sedari sore hingga pagi menjelang.




Retakan pada kaki meja belajar seolah menjadi si penguping setia celotehan yang hanya beberapa telinga saja yang paham, namun ia selalu paham atau pura-pura paham dengan celotehan yang tak berbobot itu.


Debu-debu dan uang receh dibalik kasur kecil memeriahkan fenomena kamar si anak labil, ia gemar mengacuhkan uang receh yang tercecer dari isi kantong lesuhnya.


Wahai ruangan cat dinding kuning, cermin almari, kaki meja dan debu, masiih ingatkah kau ketika aku bicara tentang rasanya jatuh cinta?

Filosofi Hati


Ada sebuah sensasi yang menyebul keluar dan kini perlahan menguasaiku, hingga kini membuat jarak antara hati dan perasaan hingga memunculkan sebuah tanya: “kenapa seperti ini (lagi).



Telah lama ku simpan dalam lubang ingatan tentang memoar yang tak seharusnya ku pajang lagi dalam dinding hati. Figura-figura yang memajang wajah yang selalu membuat sistem ototku menjadi aneh, sistem yang kadang membuat bahagia, sedih, nelangsa, semangat bahkan rasa hambar pun pernah tercipta. Tak terhitung berapa miliar detik yang kuhabiskan untuk bisa dengan sempurna meleburkan semua ini, sempat aku berhasil beberapa saat, namun semua itu seolah bangkit lagi, seolah seperti kuntilanak menghantui masyarakat dengan satu tujuan: balas dendam.


Dalam filosofi keluargaku, balas dendam adalah ajaran haram. Sedari tadi alam bawah sadarku berlari entah kemana seolah mencari suatu titik yang bernama rasa nyaman. Suasana hati seperti ini benar-benar membuat semuanya berantakan. Perusahaan hati seolah mengalami kebangkrutan iman dengan berjuta hutang rasa penasaran yang belum dibayar.