Minggu, 19 Juni 2011

Konspirasi Kuning

Akan ada saatnya bangun dari tidur panjang yang jejak terjaganya masih disembunyikan Tuhan. Mimpi ini terlalu aneh, semuanya terlalu magis. Wujudku yang lain masih sibuk berlarian dengan realita. Melawan sekat yang memisahkan antara bayang, nyata, dan ilusi masih terlalu kokoh untuk bisa dibobrokan. Tenagaku kalah jauh kuat dibanding dengan gladiator-gladiator Romawi berlengan besi. Bayang ini berhasil menculikku menjauh dari dunia yang seharusnya kutapaki, semua ini hanya ilusi. Ya… ilusi, namanya sekat ilusi.


Entah ada konspirasi apa antara bayangan ini dengan seseorang yang entah siapa namanya yang selalu bersembunyi diantara sekian banyak nama dan selalu nama itu yang unjuk diri setiap harinya, setiap jam dan setiap waktunya. Tempatku kini berpijak sangat tidak kentara, dunia ini tak mengenal akal sehat.

Jengah ini sudah terktivasi sejak lama, tapi hanya disembunyikan dengan simpul senyum tanpa arti. Orang bilang ini namanya senyum tanya. Segelas susu hangat seperti yang kau tawarkan kemarin rasanya masih sama. Hambar. Meski ku bilang padamu ini rasanya sungguh manis. Biar hanya aku, Tuhan dan gelas bening ini yang tahu kalau tengah berbohong. Kebohongan gigantis yang mungkin tak akan pernah diketahui selain 3 dzat ini.

***

Alam akan selalu tahu untuk apa dunia berbentuk bulat, rerumputan berwarna hijau dan udara tak akan pernah bisa disentuh, tapi di rasakan. Jangan sesekali mempertanyakan karena sudah arbitrer; tak ada alasan mengapa bentuknya demikan, aromanya demikian, warnanya demikian dan jutaan demikian lainnya. Biar alamlah yang tahu alasannya.

Seperti aku. Aku punya berjuta alasan mengapa memilih seperti ini. Selalu mengaggungkan teori bodoh yang tak pernah ada pembuktian. Teori kalau merah dicampur hitam akan menghasilkan kuning. Itu mustahi. Dimana-mana hitam adalah warna mutlak. Meski merah 1 berbanding 100 dengan hitam, akan tetap mustahil karena hitam adalah warna pekat dan warna mutlak. Hitam dicampur biru atau putih pun mustahil akan ada kuning.

Seperti kuning, kuning adalah warna mutlak. Kuning bukan hasil dari berbagai konspirasi warna. Kuning adalah warna mandiri dan kuning bisa berkonspirasi dengan zat warna lainnya hingga terlahir beberapa varian warna sebut saja oranye dan hijau. Biarkan saja tetap kuning. Kuning varian Spongebob Squarepants. 

Sabtu, 18 Juni 2011

Hidup itu Antara: Ngangguk-ngangguk vs Geleng-geleng

Telinga kita mungkin akrab banget dengan slogan ”Hidup itu pilihan”. Yupyupyup… setiap harinya kita dihadapkan dengan berbagai pilihan, kita ambil contoh sederhana aja nih ya, pilih mandi pagi atau engga. Konsekuensinya kalau mandi pagi pasti kerasa dingin banget dan kayanya lebih enak selimutan di kamar daripada mandi. Tapi keuntungannya badan kita nanti jadi seger dan ngantuknya ilang. Kalau ga mandi ya konsekuensinya badan ga enak tapi seenggaknya bisa ngehindar dari hunusan pedang ‘kedinginan pagi’  yang luar biasa.



Itu contoh sederhananya, contoh yang agak sedikit complicated-nya gini: di liburan semester genap ini jurusan ngasih kesempatan pendaftaran SP untuk memperingkas masa studi kuliah jadi lebih cepet. Tau kan SP itu singkatan dari “Semester Padat”, yuhuuuuuu judulnya aja udah ‘padat’, pasti materi-materinya juga padet banget karena kuliah yang biasanya materi itu kita pelajari selama kurang lebih 4 bulan, harus kita telen mentah-mentah dalam rentang waktu kurang dari 2 bulan. WOW betapa tidak olabnya kita dengan pemadatan ini. Untuk beberapa mata kuliah mungkin bisa kit atasi, nah gimana kalau matakuliahnya yang dijalani selama satu semester aja udah keteteran dan pusing, apalagi untuk rentang waktu pemadatan selama 2 bulan? Siap-siap aja tu otak meledak.

Contoh cukup complicated selanjutnya adalah target. Jadi gini, misalnya kamu menargetkan dalam satu tahun ini kamu ikut kursus keterampilan yang sebenernya niatnya udah lama banget, tapi belum sempet kesampaian. Nah, disaat waktu untuk ikut kursus itu ada, kamu dihadapkan dengan pilihan untuk memperingkas waktu studi kamu jadi lebih cepet. Disisi lain kamu ingin ngembangin potensi diri kamu atau mungkin ingin cari kesibukan lain selain beban tuntutan akademik yang mulai bikin jenuh dan bikin mata semakin bertambah minusnya.

Oke, ini sih curhat colongan. Oke. Oke. Oke. Singkatnya gini deh:
1.      Semester Padat
Keuntungan:
·         masa studi kuliah lebih cepet,
·         semester depan bisa lebih santai
·         bisa cepet-cepet wisuda
Konsekuensinya:
·         materinya dipadetin banget dari 4 bulan jadi 2 bulan, sukur-sukur kalau ngerti, apa jadinya kalau ga ngerti dan dapet nilai C terus gak ada kata remedial sampai akhirnya harus ngontrak ulang di semester reguler?

2.      Kursus keterampilan
Keuntungan:
·         Tambah pengalaman
·         Punya keahlian baru
·         Suatu saat bisa dikembangin dan jadi wirausahawan
·         Punya jaringan baru karena banyak ketemu sama orang-orang baru

Konsekuensinya:
·         Milih ikut kursus dan ga ikut Sp mungkin agak sedikit ketinggalan dari temen-temen yang lain, dan mungkin misah dari temen deket yang ikut SP (ga sekelas di beberapa matakuliah)

WOHOOOOOOOOOOOOO o yang nana o yang mana, aku suka. Aku bingung aku bingung, mau yang mana, pilih ini pilih itu, ngibuuuuuuuuuung merangkap bimbang yuhdhonono sekaligus bimbang trihatmmojo.


Rabu, 15 Juni 2011

Jodoh Ga Jadi *bagian 3

PART III
Dua bulan setelah ebtanas dan setelah pengumuman kelulusan, akhirnya pernikahan itu berlangsung, dan laki-laki itu kini menjadi bapak saya ^^. Undangan pernikahan pun sampai ketangan hilman. Hilman kaget bukan kepalang, karena konon katanya 2 bulan lagi Hilman akan langusng datang melamar mama yang memang sudah lama telah dijodohkannya itu, tapi karena Hilman memang terlalu sibuk dan terlalu tekun dengan kuliah hukumnya, kesempatan itu pun sirna sudah. Ya, ternyata sesempurna apapun Hilman, ternyata Hilman bukan jodoh mama saya, dan kalau misalkan mama jadi menikah dengan hilman, MANA MUNGKIN ADA SAYA??? Dan dengan berat hati, hilman tetap tegar menghadiri acara pernikahan mama dan bapak saya, meski mungkin perih (tapi da salah sorangan, hahahahahaha)

Sebulan menikah, mama langsung di ajak ke luar kota, ke Banjarmasin lebih tepatnya, dan lahirlah seorang anak perempuan bernama Utami Fitriani. Kelahiran anak pertama yang jauh dari sanak saudara, wew.

Dua tahun di Banjarmasin, bapak dipindahkan tugas ke Samarinda daaaaaaaaaaaan borojol-lah si Merinda Solikhah dengan terpaut usia 3,5 tahun dari kakak perempuannya. 2,5 tahun di Samarinda, bapak pindah tugas di Depok selama 2 tahun dan hingga pada akhirnya kembali ke kota Bandung di tahun 1996, kembali ke tanah nenek moyang sampai sekarang =)

Jodoh Ga Jadi *bagian 2

PART II

Kakek saya tidak ikut campur tangan dalam urusan ini, dari dulu kakek memang menganut paham “let it flow”. Sampai suatu ketika ada surat yang menghampiri teras rumah, tanpa perangko dan tanpa cap pos, tapi entah kenapa mama saya merasa deg-degan membaca surat tanpa nama pengirim itu dan surat itu selalu muncul di setiap pagi, di hari Rabu.

Di suratnya yang ke lima, sang pengirim surat meminta mama untuk bertemu, hari jumat jam 4 sore didepan teras rumah. Mama saya semangat 45 sekali menyambut hari jumat itu. Mama saya dandan yang rapi, serapi mungkin, tidak seperti biasanya.

Hari yang ditunggu pun tiba, jam pun menunjukan pukul 4 sore. Mama saya duduk manis di depan teras rumah, menungu siapa yang akan datang daaaaaaaaaan jeng-jeng-jeng, seorang laki-laki berkemeja biru menutupi wajahnya dengan setumpuk rantang berwarna alumunium. Setelah laki-laki itu tepat berada di depan mama saya, rantang alumunium itu perlahan turun dan mulai terlihatlah wajah lelaki berkemeja biru langit itu. Matanya agak sipit, badannya kurus dan berkumis tipis.

Mama saya nyeritain ini sambil ketawa-ketawa loh, siapa gerangan laki-laki itu? Ternyata laki-laki itu adalah tetangga mama, hanya terhalang satu rumah dari rumah kakek. Laki-laki itu mulai memperkenalkan dirinya yang sebenarnya mama saya juga sudah tau siapa namanya. Mama saya speechless dengan pertemuan secret admirer ini. Wow gimana bisa? Mama saya juga sebenernya suka merhatiin laki-laki cungkring ini dan minta ingin dijodohin sama lak-laki tetangga ini, hahahhaha jodoh emang jorok!

Setalah pertemuan sore itu, setiap jumat jam 4 sore mama sering ketemu sama laki-laki itu dan surat pun masih sering melayang di hari rabu, ya dari laki-laki yang saat ini sedang bikin mama ‘kesengsem’ dan jadianlah mereka.

6 bulan pacaran, laki-laki itu memberanikan diri melamar mama dengan menemui kakek dan nenek. Awalnya laki-laki itu takut, karena title kakek yang lumayan terkenal garang, tapi dengan segenap kesungguhan akhirnya keberanian itu muncul juga. Mendengar pemaparan bahwa laki-laki ini telah mapan dan bekerja di sebuah instansi pemerintah, kakek pun merestui lamaran ini dan merencanakan untuk segera menikah, dengan syarat harus menunggu beberapa bulan lagi, karena mama sebentar lagi akan menghadapi ebtanas. 

Jodoh Ga Jadi *bagian 1

Mungkin di abad milenium ini acara jodoh-ngejodohin udah bisa dibilang hampir punah ya meski beberapa daerah di perkampungan mungkin masih sering terjadi. Tapi kalau denger cerita tentang jodoh-ngejodohin pasti seru, saya salah satu orang yang paling seneng denger cerita tentang acara perjodohan, cerita yang menarik datang dari mama saya sendiri, gini ceritanya:

Kakek saya adalah seorang guru PMP (kalau sekarang PKn) merangkap guru ngaji di masjid. Kakek saya juga termasuk salah satu orang tua yang tegas. Sangat tegas. Bahkan cenderung keras dalam mendidik putra-putrinya. Singkat cerita, kakek saya punya seorang murid ngaji, sebut saja Hilman dan Hilman ini diam-diam menaruh hati sama mama saya yang waktu itu masih duduk di banku SMP kelas 2, Hilman sering mengirimkan surat dan member hadiah mama saya, tapi tak pernah ditanggapi. Sampai suatu ketika kakek saya mengetahui perasaan anak didiknya tersebut dan bermaksud menjodohkan dengan mama (mama waktu remaja, hehe) saya yang terpaut beda usia 10 tahun. Yayayaya jaman dulu beda usia 10 tahun tuh udah biasa banget, kalau jaman sekarang sih bedanya ya kayak 3-4 tahunan lah. Oia, kebetulan ayah Hilman juga memang kerabat dekat kakek saya.


Perjodohan pun di mulai, kedua keluarga sudah siap terkecuali mama saya. Mama saya adalah wanita paling cuek sedunia. Meski tau akan dijodohkan, mama remaja bersikap biasa-biasa aja tuh, pertemuan keluarga itu dianggap orang bertamu biasa. Tapi meskipun bersikap cuek bebek, mama tau apa yang harus ia lakukan, mama harus menurut apa kata sang kakek, karena mama tau dengan ini kakek akan bahagia.


Semenjak perjodohan, Hilman semakin sering mengirimi mama saya surat sekaligus makanan, tak lupa juga sesajen untuk kakek dan nenek saya, tapi tetap saya mama bersikap cuek bebek dengan surat-surat yang isinya puitis setengah mati itu. Bukan Hilman namanya kalau tak pandai merangkai kata-kata. Kata kakek, dulu Hilman adalah orang yang sangat cerdas di sekolahnya, banyak wanita yang menaruh simpati padanya, dan kata kakek saya, mama adalah wanita yang aneh karena bersikap biasa-biasa saja pada hilman.


Hilman meneruskan sekolahnya di jurusan hukum di salah satu universitas negeri di Bandung, karena jarak dari rumah yang cukup jauh, Hilman memutuskan untuk kost di sekitar kampusnya itu. Awal kuliah, Hilman masih cukup intens mengirimi mama surat, lewat pos. Tapi lama kelamaan semakin jarang karena mungkin disibukan dengan tugas sekolah dan kegiatannya sebagai aktivis kampus. Hilman pun menghilang. Apa mama saya merasa kehilangan? Jawabannya TIDAK. 

Balada Ibu dan Anak

Percakapan di sebuah siang, jam dimana anak sekolah berlarian sepulang sekolah
A: mamah hade hoyong meser acuk
M: ah ade mah ari diajak balanja teh sok sagala ditunjuk, sok hoyong itu ieu
A: moal atu mah hayu meser acuk, janji ade mah meser acuk hungkul!

Di pusat perbelanjaan
M: tuh ade kan atos meser acukna, hayu uwih sakedap deui bapak dongkap
A: mah mah, itu kantong sae nya *sambil lari menghampiri toko perlengkapan sekolah*
M: ah ade mah sok hoyong geura engke teh, hayu ah uwih
A: ih mamah sae nya, warna emping karesep ade
M: ah kan kantong warna emping teh tos pabalatak ade mah
A: anu biru atuh
M: hayu uwih

Selagi menunggu angkot
A: mamah hoyong kantong anu tadi
M: teuh da ade mah, tadi ceunah janji meser acuk hungkul. Da ade mah sagala we hoyong
A: atuh mamah da hoyong kantong.. hoyong kantong…
M: ari ade sakitu kantong tos pabalatak oge,
A: atu mah HOYONG KANTONG HOYONG KANTONG *nangis gugulitikan, jejeretean*